Memeluk Nisan Kaku Sejak Kecil: Rasa Iri yang Tak Pernah Selesai di Beranda Media Sosial

 Saya pernah melihat Qoute dan membacanya 

"Ketika Seorang Ayah tak ada, berarti tugasnya sudah selesai atau sang anak telah mampu kuat "

Me... ah sekacau ini perasaannya ketika melihat qoute-qoute tentang ayah ataupun postingan mengenai ayah. 

Konten video yang memperlihatkan seorang anak tersenyum melihat ayahnya menjemputnya, atau konten video pelukan hangat dari sang ayah untuk anak perempuannya. 

Tapi... ah itu semua bukannya cuma konten yak..

Satu hal yang membuat saya selalu iri,. dan iri itu tidak pernah selesai.

ya itu pelukan hangat yang bahkan membayangkannya saya tidak pernah sanggup atau saya tidak pernah mampu.

Saya hanya bisa datang memeluk batu nisan kaku itu,.. dan itu sejak kecil.

Pelukan yang paling dingin adalah pelukan pada sebuah batu nisan. Ketika anak-anak lain memiliki memori tentang aroma jaket ayah mereka setelah pulang kerja, atau bagaimana rasanya diangkat tinggi-tinggi dalam dekapan yang hangat, sebagian dari kita hanya memiliki memori tentang tanah yang basah dan tulisan nama yang terpahat kaku.


Jika Anda mampir ke artikel ini karena merasakan sesak yang sama setiap kali melihat konten tentang ayah di media sosial, mari duduk sebentar. Anda tidak sendirian, dan perasaan iri itu... sangat valid.







Ketika "FYP" Menjadi Ruang yang Kejam

Hari ini, algoritma media sosial sering kali tidak kenal ampun.

Kita sedang asyik menggulir layar, lalu tiba-tiba muncul:

  • Video seorang ayah yang menjemput anak perempuannya sambil membawakan jajanan kesukaan.

  • Momen wisuda di mana seorang anak laki-laki dipeluk erat oleh ayahnya yang bangga.

  • Tren video "Keluarga Cemara" yang penuh tawa.


Bagi mereka yang beruntung, itu adalah hiburan atau pengingat untuk bersyukur. Namun bagi kita, itu adalah pengingat visual tentang apa yang tidak pernah dan tidak akan pernah kita miliki.

Ada kalanya pikiran kita mencoba bertahan dengan sinis, "Ah, itu kan cuma demi konten. Aslinya mungkin gak seindah itu."


Namun, jauh di lubuk hati, kita tahu itu adalah bentuk pertahanan diri (defense mechanism). Kita bersikap sinis hanya karena kita terlalu rapuh untuk mengakui sebuah kebenaran yang jujur: Kita iri. Dan rasa iri itu tidak pernah benar-benar selesai.


Membayangkan sebuah pelukan hangat dari seorang ayah terkadang menjadi tugas yang terlalu berat untuk imajinasi kita. 

Bagaimana bisa kita membayangkan sesuatu yang polanya saja tidak pernah kita rekam dalam ingatan?

"Kehilangan ayah sejak kecil berarti kita harus tumbuh dewasa tanpa sempat membangun benteng pertahanan pertama kita."

Saat anak lain berlari ke belakang punggung ayahnya ketika dunia terasa menakutkan, kita dipaksa berdiri di garis paling depan, menghadapi badai dengan kaki kecil kita sendiri. Kita belajar menjadi kuat bukan karena kita ingin, tapi karena kita tidak punya pilihan lain.


"Ketika seorang ayah tak ada, berarti tugasnya sudah selesai atau sang anak telah mampu kuat."

Kalimat itu terdengar puitis, tapi juga terasa berat. Benarkah kita sudah cukup kuat? Mengapa di tengah "kekuatan" yang kita miliki saat ini, rasa rindu dan hancur itu masih sering datang tanpa permisi?

Jawabannya adalah karena menjadi kuat tidak berarti kita kehilangan sisi manusiawi kita. Menjadi mandiri bukan berarti lubang di hati itu otomatis tertutup.

Batu nisan itu mungkin kaku dan dingin, tetapi cinta dan darah yang mengalir di tubuh Anda hari ini adalah bukti nyata bahwa keberadaan Ayah pernah ada, dan akan selalu ada di dalam diri . saya ataupun kamu  adalah perpanjangan dari hidupnya yang belum selesai.

Jika hari ini melihat konten tentang ayah membuat perasaanmu kacau, tidak apa-apa untuk menutup aplikasi itu sejenak. Saya melakukannya dan meletakkan handphone dan membuka blog ini, menuliskan perasaan ini dengan iringan derai air mata...

Kemudian.. saya membiarkan derai airmata ini jatuh tidak berhenti.. hingga nanti akan berhenti sendiri.

Tarik napas dalam-dalam.

Iri itu wajar. Menangis di depan nisan yang bisu itu juga bukan tanda saya ataupun kamu lemah.

Itu adalah tanda bahwa saya atau kamu adalah seorang anak yang memiliki ruang cinta yang sangat besar, yang sayangnya, pemilik ruang tersebut harus pulang lebih cepat.


Ah kata-kata ini untuk kamu, tapi juga untuk saya...

Kamu sudah bertahan sejauh ini tanpa pelukan hangat itu, dan itu adalah sebuah keajaiban yang luar biasa. Ayahmu, di sana, pasti melihat betapa tangguhnya anak yang dulu ditinggalkannya kecil, kini telah tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa kuat, bahkan ketika dunia terasa sekacau ini.

Sampaikan rindu itu lewat doa, karena hanya itu frekuensi yang tidak akan pernah putus.

Jika kamu yang membaca tulisan ini masih memiliki ayah,.. datanglah... sapa dan peluk erat beliau...

Sampaikan rasa sayang kalian...

Sayapun menitip rasa sayang saya untuk ayah kalian...

Kalian harus ingat kalian memiliki keberuntungan yang tidak semua orang memiliki.

Ah sudah... air matanya ga berhenti keluar... wkwkwk..

bye.. bye... sampai jumpa ditulisan yang lain.. yang lebih kritis yak..




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Charge

FoPo (Fear of People's Opinions) - Kena mental

Review The Alpha Girls Guide