Kasmaran : Otak yang Dibajak secara Legal

 Katanya Kasmaran Tapi....



Mari kita dengarkan lagu ini ya,.. sepertinya relate dengan pembahasan kali ini.


Ah ya,... katanya kalau pipi bersemu pink menandakan kasmaran. 
Tulisan ini muncul karena ucapan sahabat yang tetiba " pipimu kok bersemu pink siy, kayak orang kasmaran aja, hayooo"... 

Sayapun hanya tersenyum menanggapinya (nyatanya pink di pipi karena pipi yg sedang iritasi).


Nah, pagi ini setelah membereskan hasil diskusi bagian dari disertasi, saya pun memutuskan untuk bertanya pada gemini AI.

Tahu gak, pertanyaan yang saya ajukan
receh tapi menggelitik

Apa siy kasmaran itu? apakah benar pipi bersemu pink? 

Jawabannya : 

"kasmaran adalah kondisi ketika seseorang sedang dirundung asmara, jatuh cinta, atau mabuk kepayang. Istilah ini menggambarkan gejolak emosi yang kuat, penuh gairah (passion), dan ketertarikan yang mendalam kepada seseorang"

Oke, setelah membaca penjelasan sekilas Gemini, saya memutuskan untuk menulis ini. 

Jalan tetap waras dalam menghadapi dar der dor nya hidup... 

Kasmaran ini identik dengan warna pink,

Pernahkah kamu merasa seolah dunia mendadak punya filter merah jambu? 

Hari-hari yang tadinya biasa saja berubah penuh warna, membaca notifikasi dari dia aja udah langsung senyum (walaupun belum tau tuh isi pesannya apa, bisa jadi nagih hutang  wkwkkwk). 

 Dengerin lagu-lagu romantis di playlist mendadak terasa masuk akal, dan anehnya, wajah si dia seolah menempel di langit-langit kamar sampai membuatmu susah tidur (me, kalau saya ya tetap tidur sih). 

Dalam bahasa sehari-hari, kita menyebut fase ini sebagai kasmaran, spark, atau chemistry. Namun, jika kita membedahnya secara ilmiah, 

kasmaran sebenarnya adalah kondisi ketika otak kita sedang dibajak secara legal. (gaes, dibajak loh,...ingat kata dibajak)

Jatuh cinta itu, kok sawangane terlalu negatif ya... 

Ya jelas, wong biasanya fase jatuh cinta identik dengan bertindak irasional, super obsesif, bahkan sampai kehilangan kemampuan berpikir kritis.. 


Banyak orang mengira jatuh cinta adalah urusan hati. Big No... 

Padahal, seluruh sensasi mendebarkan itu diproduksi di kepala kita. 

Saat kasmaran, otak kita memproduksi kombinasi zat kimia yang sangat adiktif. Ada tiga aktor utamanya:

  • Dopamin (Zat kesenangan): Setiap kali melihat senyumnya atau menerima notifikasi pesan darinya, otak akan memberikan dopamin dalam jumlah besar. Dopamin mengatur reward system (sistem imbalan) di otak. Efeknya sama persis dengan zat adiktif: memicu rasa bahagia yang meluap-luap (euforia) dan membuat kita ketagihan untuk terus bertemu si dia.

  • Norepinefrin (Adrenalin): Zat inilah yang bertanggung jawab atas reaksi fisikmu. Jantung berdebar kencang, telapak tangan berkeringat, dan mendadak gagap atau salah tingkah saat berpapasan dengan gebetan adalah efek dari lonjakan adrenalin. (ah kalau yang ini tidak berlaku pada individu yang mengalami aritmia hihihi)

  • Serotonin (Pemicu Obsesi): Ini bagian yang paling mengejutkan. Pernahkah kamu merasa heran mengapa kamu bisa memikirkan si dia hampir 24 jam sehari? Kamu bolak-balik memeriksa profil media sosialnya dan mengingat setiap detail kecil ucapannya.

Kata Marazitti dkk, 1999 dalam "Alteration of the platelet serotonin transporter in romantic love".   Penelitian ini  mengungkapkan bahwa orang yang baru kasmaran mengalami penurunan kadar serotonin hingga 40%. Secara klinis, angka penurunan ini ternyata sama persis dengan kadar serotonin pada orang yang didiagnosis memiliki Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).

Ketika kadar serotonin drop, otak kehilangan kemampuan untuk "mengerem" pikiran. Akibatnya, fokus pikiran kita terkunci secara obsesif hanya pada satu objek: si dia. Jadi secara biologis, wajar jika di fase ini kamu mendadak jadi agak obsesif.


Pernah mendengar pepatah "cinta itu buta"? Sains membuktikan bahwa pepatah itu secara harfiah benar (benar ya gaes). 

Saat seseorang berada di puncak kasmaran, bagian otak yang bernama prefrontal cortex yang biasanya  berfungsi untuk melakukan penilaian kritis, logika, dan mendeteksi risiko justru mengalami penurunan aktivitas. Bagian otak ini sengaja "dinonaktifkan" oleh tubuh.

Dampaknya sering kali membuat orang yang konon jatuh cinta itu mengalami kebutaan selektif.  Kita hanya mampu melihat kelebihan-kelebihan si dia dan sama sekali gagal mendeteksi tanda bahaya (red flags). Di mata orang yang kasmaran, semua kekurangan pasangannya akan dijustifikasi sebagai "keunikan yang menggemaskan". -__- 

So.. mungkin ini yang terjadi pada individu yang excited sendiri 


Lalu pertanyaan muncul kan, kalau gitu ... 

kasmaran begitu melelahkan secara emosional dan menguras energi kognitif, mengapa kita merasakannya?

Psikologi evolusioner menjelaskan bahwa fase kasmaran yang menggebu-gebu ini adalah mekanisme bertahan hidup (survival mechanism). Manusia membutuhkan dorongan emosi yang luar biasa kuat, banjir dopamin dan penurunan logika, agar berani keluar dari zona nyaman.

 Energi ekstrem inilah yang membuat kita berani mengambil risiko ditolak, menembus rasa cemas, dan mengalokasikan waktu serta energi demi mendekati orang lain untuk membentuk ikatan baru.

Kabar baiknya atau kabar buruknya (semua tergantung persepsi dan kondisi hihi), fase pembajakan otak ini memiliki tanggal kedaluwarsa. 

Secara biologis, fase kasmaran ini biasanya hanya bertahan antara 6 bulan hingga maksimal 2 tahun

Setelah itu, kadar hormon akan kembali seimbang, prefrontal cortex kembali aktif, dan kita mulai melihat pasangan kita secara apa adanya (realistis).

Di titik inilah hubungan diuji: apakah akan berakhir karena "sihirnya" habis, atau bertransformasi menjadi cinta yang matang (companionate love) yang fondasinya bukan lagi obsesi neurokimia, melainkan komitmen, keintiman, dan rasa aman yang stabil.


Karena itu,.. 

Kasmaran bukanlah tanda bahwa kamu kehilangan kendali atas dirimu. Itu adalah tanda bahwa perangkat biologis di dalam tubuhmu sedang bekerja dengan sangat baik.

 Otakmu sengaja menciptakan "kegilaan sementara" agar kamu bisa terhubung dengan manusia lain.

Jadi, jika saat ini kamu merasa otakmu sedang dibajak oleh bayangan seseorang, nikmati saja prosesnya. 

Rayakan setiap  dopamin yang membuat hari-harimu terasa lebih hidup, selama kamu tahu bahwa suatu hari nanti, logikamu akan kembali pulang.


Udah ah, balik ke disertasi lagi .... 

Ntar saya balik lagi kalau udah menyelesaikan bagian kecil dari disertasi sebagai reward...  

Ada loh rekaman videonya dari tulisan ini tapi bisa dilihat di sosmed IG hihihi.. 

Sumber referensi : https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10405096/  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Charge

FoPo (Fear of People's Opinions) - Kena mental

Review The Alpha Girls Guide