Postingan

Setengah gelas butterscoth dan Es yang meluruh

  Di sinilah letak menariknya komunikasi manusia. Kita sering kali merasa harus mengumumkan keberadaan kita, melalui ucapan, penegasan, atau kehadiran yang kadang terlalu bising, menuntut agar diakui.  Kita merasa harus berkata,   "Aku di sini,"   untuk memastikan bahwa kita terlibat. Bisa jadi bentuk kehadiran yang paling berharga sering kali adalah yang paling minim dekorasi ataupun interaksi  Hadir tanpa perlu berkata sedang hadir. Ketika seseorang memilih untuk melarutkan dirinya ke dalam ruang tanpa tuntutan untuk mendominasi pembicaraan, secara sadar ia sedang memberikan sebuah konfirmasi yang mutlak. Anggukan kecil saat menyimak, arah tatapan, hingga bagaimana berbagi atmosfer rasa dalam diam bisa jadi bentuk bahasa yang tidak membutuhkan kamus untuk dipahami. Kehadiran fisik yang tenang memiliki kemampuan dekonstruktif, meruntuhkan kekakuan dari teks digital yang dingin, hmm dan lalu menggantinya dengan ruang aman yang nyata.  kini hanya tersisa set...

Meracik bumbu, Merilis stress

Ada hari-hari di mana isi kepala terlalu bising dengan target, ekspektasi, dan akumulasi stres yang tidak kasat mata. Seperti beberapa hari ini, rasanya penat, lelah dan entah perasaan apa lagi itu .  kapasitas kognitif mulai menemui titik jenuhnya, melarikan diri ke dalam deretan teks atau analisis digital sering kali justru memperkeruh suasana. Saya sudah Mencoba menuangkannya dalam deretan teks , menari di atas keybord tapi rasanya malah menghadirkan tanya dan takut yang entah kapan ada jawabannya .. Akhirnya hari ini,  Di momen seperti itu, saya memilih berjalan ke dapur, menyalakan lampu, dan mengambil talenan. Malam ini, terapi psikologis tidak datang dari ruang konseling atau buku-buku teoretis seperti biasa, melainkan dari sebuah ritual sederhana: meracik bumbu masakan. Dimulai dari kulit bawang yang mengelupas satu demi satu di bawah jemari.  Ada kepuasan tersendiri yang sunyi saat melihat lapisan luar yang kering itu terbuang, menyisakan bagian inti yang bersih ...

Membaca yang Tersirat di Sela Sesapan Kopi

 Sore Hari... Diantara langit yang meremang karena awan yang mulai menutup sang Cahaya. Duduk dipojokan, menghadap laptop, jari jemari asyik menari di tuts keyboard, seakan menuangkan gundah di kepala. Saya seorang penikmat butterscoth, selain cappucino. Belakangan ini, saya sedang jatuh cinta pada segelas es kopi yang saya minum saat rasa lelah setelah aktivitas seharian.  ah, tentu bukan karena kafeinnya yang ampuh menahan kantuk, bukan.. karena kafein mengantarkan saya tertidur dengan pulas hehehe. Jatuh cinta karena rasa yang bekerja di lidah. Sensasi aneh namun memikat ditiap sesapannya.  Sesapan pertama, rasa manis karamel yang pekat menyambutnya dengan brutal, ah terlalu manis respon pertama. Namun, sedetik kemudian rasa gurih asin dari mentega yang tipis mulai datang dan turut menyambut dan di akhiri pahitnya espresso yang menutup tarian rasa di kerongkongan.  Aneh, ya pasti aneh.. Tiga rasa yang saling berbeda, cenderung bertolak belakang, namun ketika dipad...

Menghuni Jeda diantara ....

Belakangan ini otak kita terlalu penuh dengan bahasa yang njelimet...  Waiiii… liat aja postingan lini masa yang penuh dengan permainan kata.  Lambat laun, saya menyadari ah kadang kata-kata itu sering kali menipu, atau kalau tidak menipu bisa jadi terlalu sempit untuk dimaknai.  Contohnya... tuh lagu MBG .... Mas B... G ....  jika langsung dimaknai, liriknya lucu, tapiii dibalik itu.. ah sudahlah bisa jadi kampanye atau apapun itu..  Sama seperti kata "aku paham, iya aku ngerti kok ... atau iyaa aku sayang kok,.. " lambat laun kalimat itu rasanya seperti memiliki batas. Ntah maknanya seperti menyusut, lalu lenyap.. Maybe, ah ntahlah..  Konon perasaan itu lebih dari kata,.. nah perasaan yang membuncah itu seakan dipaksa masuk dalam kotak pandora bahasa. Kadang kala bahasa itu tidak cukup menampung seluruh isi kepala dan hati...  Ya gak siy? Makna dari kata itu bisa berbeda ... ah sesederhana "kamu paham? bermakna menanyakan ?atau berkata tegas". Ya.......

Logika Rasa Dalam Lingkar Sosial

Gambar
Tidak dapat kita pungkiri,  era digital saat ini, memudahkan kita memiliki ratusan "teman" di media sosial. Ikut sebuah kumpul-kumpul lalu saling tukar akun sosmed, follow dan jadi teman. Semudah klik tapi tidak sepenuhnya klik.. Ups, maksudnya... Gini- gini...  Kita seolah tahu siapa mereka hanya dari postingan yang seliweran di media sosial bukan. Kita tahu apa yang mereka makan siang ini,  kita tahu ke mana mereka berlibur,  bahkan kita juga bisa tahu opini mereka tentang isu terhangat.  Namun, pernahkah kamu mendapati diri kamu sendiri berada di tengah keramaian terasa sepi ? atau kamu sedang menatap layar ponsel yang penuh notifikasi,  lalu tiba-tiba tertegun dan bertanya: apa ini? “Dari semua orang ini, siapa yang benar-benar teman saya?” No.. no... jangan buru-buru membaca pertanyaan tersebut dengan nada sinis..  Saya menulis ini juga sebagai sebuah refleksi diri, saat saya galau gundah gulana, patah hati dan menangis merutuki ini.  Setelah...