Postingan

Di Balik Lagu Romantis Ini, Ada Strategi "Intel" yang Jenius

Gambar
  Kayaknya kalau ngikutin cerita-cerita remaja yang sedang jatuh cinta, sering kali mereka akan menjadi stalker yang cihuy banget yaaaa... Mungkin tetiba mereka bisa jadi detektif atau intel yang bekerja dalam senyap untuk cari tahu tentang siy crush.  Mengapa Jatuh Cinta Bikin Kita Jadi "Detektif" Diam-Diam? Artikel kali ini mau nyoba membedah, dari psikologi komunikasi Lagu "  I Like You So Much, You’ll Know It" kamu pernahkan mendengarkan lagu I Like You So Much, You’ll Know It dan ikut tersenyum sendiri?  kayak berasa gemesnya, berdebarnya jatuh cinta terasa ya dari tiap liriknya...  Lagunya manis, semanis senyumannya yang kamu kenang tiap kali kamu terbayang... asiiiik...  Liriknya  detail: “I like your eyes, you look away when you pretend not to care…” hingga “I like the way you try so hard when you play basketball.” Kalau diperhatikan, liriknya bisa menggambarkan dari kebiasaan kecil gebetannya, mulai dari caranya melirik, wangi badannya, samp...

Setengah gelas butterscoth dan Es yang meluruh

  Di sinilah letak menariknya komunikasi manusia. Kita sering kali merasa harus mengumumkan keberadaan kita, melalui ucapan, penegasan, atau kehadiran yang kadang terlalu bising, menuntut agar diakui.  Kita merasa harus berkata,   "Aku di sini,"   untuk memastikan bahwa kita terlibat. Bisa jadi bentuk kehadiran yang paling berharga sering kali adalah yang paling minim dekorasi ataupun interaksi  Hadir tanpa perlu berkata sedang hadir. Ketika seseorang memilih untuk melarutkan dirinya ke dalam ruang tanpa tuntutan untuk mendominasi pembicaraan, secara sadar ia sedang memberikan sebuah konfirmasi yang mutlak. Anggukan kecil saat menyimak, arah tatapan, hingga bagaimana berbagi atmosfer rasa dalam diam bisa jadi bentuk bahasa yang tidak membutuhkan kamus untuk dipahami. Kehadiran fisik yang tenang memiliki kemampuan dekonstruktif, meruntuhkan kekakuan dari teks digital yang dingin, hmm dan lalu menggantinya dengan ruang aman yang nyata.  kini hanya tersisa set...

Meracik bumbu, Merilis stress

Ada hari-hari di mana isi kepala terlalu bising dengan target, ekspektasi, dan akumulasi stres yang tidak kasat mata. Seperti beberapa hari ini, rasanya penat, lelah dan entah perasaan apa lagi itu .  kapasitas kognitif mulai menemui titik jenuhnya, melarikan diri ke dalam deretan teks atau analisis digital sering kali justru memperkeruh suasana. Saya sudah Mencoba menuangkannya dalam deretan teks , menari di atas keybord tapi rasanya malah menghadirkan tanya dan takut yang entah kapan ada jawabannya .. Akhirnya hari ini,  Di momen seperti itu, saya memilih berjalan ke dapur, menyalakan lampu, dan mengambil talenan. Malam ini, terapi psikologis tidak datang dari ruang konseling atau buku-buku teoretis seperti biasa, melainkan dari sebuah ritual sederhana: meracik bumbu masakan. Dimulai dari kulit bawang yang mengelupas satu demi satu di bawah jemari.  Ada kepuasan tersendiri yang sunyi saat melihat lapisan luar yang kering itu terbuang, menyisakan bagian inti yang bersih ...

Membaca yang Tersirat di Sela Sesapan Kopi

 Sore Hari... Diantara langit yang meremang karena awan yang mulai menutup sang Cahaya. Duduk dipojokan, menghadap laptop, jari jemari asyik menari di tuts keyboard, seakan menuangkan gundah di kepala. Saya seorang penikmat butterscoth, selain cappucino. Belakangan ini, saya sedang jatuh cinta pada segelas es kopi yang saya minum saat rasa lelah setelah aktivitas seharian.  ah, tentu bukan karena kafeinnya yang ampuh menahan kantuk, bukan.. karena kafein mengantarkan saya tertidur dengan pulas hehehe. Jatuh cinta karena rasa yang bekerja di lidah. Sensasi aneh namun memikat ditiap sesapannya.  Sesapan pertama, rasa manis karamel yang pekat menyambutnya dengan brutal, ah terlalu manis respon pertama. Namun, sedetik kemudian rasa gurih asin dari mentega yang tipis mulai datang dan turut menyambut dan di akhiri pahitnya espresso yang menutup tarian rasa di kerongkongan.  Aneh, ya pasti aneh.. Tiga rasa yang saling berbeda, cenderung bertolak belakang, namun ketika dipad...