"Hadir Tanpa Mengetuk Pintu: Membedah Jebakan Triangulasi Komunikasi dari Masa ke Masa"

Pernah nggak sih kamu terjebak di situasi di mana kamu lagi ada masalah atau kecemasan sama pasangan, tapi bukannya ngomong langsung secara terbuka, kamu malah menggunakan "perantara" untuk menyampaikan perasaanmu?

Atau sebaliknya, kamu yang tiba-tiba ditarik buat jadi penengah di antara dua orang yang lagi konflik, atau lagi sok cuek?

Kalau pernah, selamat!


Kamu sudah mempraktikkan Triangulasi komunikasi.


Istilah ini mungkin terdengar sangat akademis, atau kualitatif banget wkkwkw... Tapi, percayalah dinamika ini dekat banget sama keseharian kita.


Bahkan, para musisi Indonesia sudah memotret fenomena ini lewat lagu-lagu hits mereka. Salah satu yang paling presisi dan tajam dalam menggambarkan dinamika ini adalah lagu legendaris sepanjang masa: "Kangen" dari Dewa 19.


Kok lagu itu? ... hahahhaha gak boleh baper tapi ya,...


Yuk, kita bedah bareng-bareng apa itu triangulasi komunikasi dan kenapa skenario ini sering bikin hubungan kita terasa makin ruwet!


Muray Bowen merupakan salah satu yang mempopulerkan triangulasi. Triangulasi adalah sebuah kondisi ketika hubungan dua orang (dias) yang sedang mengalami ketegangan, kecemasan, atau konflik, menarik pihak ketiga ke dalam dinamika mereka.


Bayangkan sebuah segitiga.


ini segitiganya yaaak tapi kebalik wkwkwkwk .... ⛛


Ketika dua titik di bawahnya goyah dan tidak stabil karena adanya tekanan emosional, mereka butuh titik ketiga di atas untuk mengalihkan ketegangan tersebut agar hubungan dua titik di bawah tidak hancur atau meledak.

Bentuk "titik ketiga" ini bisa macam-macam:

  1. Orang Ketiga (Manusia): Curhat terus-menerus ke sahabat demi mencari pembelaan alih-alih menyelesaikan masalah dengan pasangan, atau menjadikan anak sebagai tameng konflik orang tua.

  2. Objek/Media: Menarik benda atau media komunikasi tertentu sebagai perantara emosi karena takut menghadapi konfrontasi langsung secara real-time.


Artikel ini mengupas dari titik ketiga objek yak sesuai lagu Dewa 19.

Mungkin selama ini kita mendengar lagu "Kangen" sebagai lagu cinta jarak jauh yang sangat romantis.


Namun, jika ditelaah lagu ini adalah contoh klasik bagaimana sebuah media komunikasi (dalam hal ini berbentuk surat) ditarik masuk sebagai pihak ketiga untuk mengelola ketegangan emosional antara dua orang.


Ketika hubungan dua orang dipisahkan oleh jarak, muncullah kecemasan (anxiety) dan rasa tidak aman (insecurity).

Hubungan dua arah menjadi tidak stabil. Untuk meredam kecemasan itu, mereka menarik entitas ketiga.

Perhatikan bait pertama lagu ini:

"Kuterima suratmu, telah kubaca dan aku mengerti... Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku..."


Di sini, surat bukan sekadar kertas bertuliskan tinta, melainkan "pihak ketiga" yang menampung beban emosional yang terlalu berat jika diucapkan secara langsung. Surat menjadi katarsis aman untuk menyalurkan emosi tanpa risiko konflik langsung.

Jika dirasakan lagi ada ketegangan utama dalam lagu ini yaitu rasa takut.


Rasa takut akan kehilangan dan keraguan apakah jalinan kasih mereka masih sekuat dulu. Ada riak konflik emosional terpendam yang tersirat di bait berikutnya:

"Jangan katakan kau tak bersedih, selimuti hatimu yang beku... Jalinan cinta tulus suci, hancur sekejap bagai tirai tiruan..."


Lirik ini menunjukkan adanya kecemasan bahwa hubungan mereka bisa saja hancur. Daripada berkomunikasi secara asertif, tatap muka namanya aja LDR yak.., dan langsung membahas akar dari rasa tidak aman tersebut, mereka memilih menggunakan surat untuk menyaring intensitas emosi. Surat berfungsi meredam ledakan emosi langsung, membuat hubungan seolah-olah "stabil," padahal akar kecemasannya belum benar-benar selesai dibahas.


Khas dalam pola triangulasi, ketika ketegangan berhasil dialihkan ke pihak atau benda ketiga, akan muncul kelegaan dan lonjakan emosi sesaat, seperti yang digambarkan pada bagian refrain:

"Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya... Menahan rasa ingin jumpa..."


Sekilas, triangulasi seperti yang ada di lagu "Kangen" terkesan membantu. Efek instannya memang menurunkan ketegangan.

Jika di era Dewa 19 titik ketiganya berbentuk surat konvensional, maka di era digital hari ini, triangulasi telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks dan terkadang... manipulatif.

Pernahkah kamu melihat dinamika di mana seseorang sedang mengalami ketegangan emosional, gengsi, atau kepanikan dengan target utamanya, lalu dia memilih "absen" total

Uniknya, alih-alih menyelesaikan ketegangan itu, justru menjadi sangat responsif dan kasual mengomentari media sosial milikoranglain. Topik yang dipilih pun sengaja dibuat sangat netral, komunal, atau maskulin.

Dalam kacamata psikologi komunikasi, ini adalah Triangulasi Digital tingkat lanjut:

  • Pihak Ketiga sebagai Proxy: Sang Aktor menggunakan media sosial oranglain sebagai panggung pihak ketiga. Dia hadir tanpa mengetuk pintumu..

  • Defleksi lewat kasual: Menggunakan topik kasual di lapak orang lain berfungsi sebagai alibi psikologis.

Hubungan terasa terselamatkan untuk sementara waktu.

Namun, dalam jangka panjang, triangulasi sering kali menjadi solusi palsu karena:

  • Masalah Utama Nggak Selesai: Sumber kecemasan atau konflik asli antara kedua belah pihak tetap membeku di sana, tidak pernah didekonstruksi dan dibicarakan secara langsung.

  • Ketergantungan pada Perantara: Kita menjadi terbiasa berkomunikasi lewat "kode", tulisan panjang di teks, atau media sosial, daripada berbicara jujur dari hati ke hati secara langsung.


Kalau kamu merasa sedang terjebak dalam pola triangulasi komunikasi ini, berikut beberapa langkah untuk mengurainya:

  1. Lakukan Detriangulation (Kembali ke Dua Arah): Jika masalah atau kecemasanmu bersumber dari Si A, maka selesaikanlah langsung dengan Si A. Kurangi kebiasaan melampiaskan atau menyalurkannya lewat perantara pihak ketiga.

  2. Gunakan Komunikasi Asertif: Sampaikan rasa tidak aman atau konflik yang kamu rasakan secara langsung menggunakan I-statement (misal: "Aku merasa cemas kalau kita jarang komunikasi..."), bukan dengan cara menarik pengalih perhatian.

  3. Sadari Fungsi Media: Sadari apakah kita mengirim pesan atau membuat status hanya untuk meredakan kecemasan sesaat, atau benar-benar untuk menyelesaikan masalah secara sehat.


Ingat, komunikasi yang asertif akan selalu memenangkan narasi yang sehat.

Sebagai penutup bisa ni baca artikel sambil dengar lagu kangen ... Selamat kangen dan selamat merenung



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malapetaka

Charge

FoPo (Fear of People's Opinions) - Kena mental