Mengaduk Cemas, Menyeduh Jeda: Refleksi Pengingat dari Tulus

Malam hari, saat membuka WhatsApp, tetiba terdengar sayup-sayup lagu Tulus berjudul "Teh Hijau".

Seketika saya bergumam dalam hati: Hmm... sepertinya memang ada yang hilang. Ada yang kurang, atau mungkin ada yang kosong. Sparks itu menguap begitu saja, tapi entah sejak kapan.

Mungkin semua ini bermula sejak dunia menuntut kita untuk serba cepat, serba produktif, dan serba "jadi". Tuntutan-tuntutan itu perlahan merenggut ketenangan kita. Matur nuwun, Tulus. Lagumu bukan cuma sekadar barisan nada, melainkan sebuah pengingat lembut bahwa hidup ini bukanlah perlombaan lari cepat.

Kadang, kita hanya perlu duduk, menyeduh waktu, dan menikmati rasanya. Ya, hanya kadang. Karena di era sekarang, momen "kadang" ini telah menjelma menjadi sebuah kemewahan yang mahal. Berapa kali perasaan lelah dan terburu-buru ini muncul dalam hidup kita?

Sering kali kita merasa berdosa kalau tidak melakukan apa-apa.

"Aduh, hari ini aku produktif gak ya?" atau "Kok orang lain sudah sejauh itu, sementara aku masih di sini saja? Aaaah... gimana ini..."

Namun, saat mendengarkan "Teh Hijau", Tulus seolah-olah berbisik: “Tenang, gak apa-apa kok. Tarik napas dulu.”

Musiknya yang lambat dan atmosfernya yang tenang memvalidasi perasaan bahwa istirahat dan jeda bukanlah sebuah kesalahan. Tidak semua hari harus diisi dengan pencapaian besar. Ada hari-hari yang memang diciptakan hanya untuk sekadar "ada" dan bertahan.

Teh hijau itu punya cita rasa yang unik. Ada sepatnya, ada pahitnya, tetapi ada rasa aftertaste yang menenangkan setelahnya. Begitu juga dengan lanskap emosi kita sebagai manusia.

Ketika kita sedang lelah, sedih, atau merasa stagnan, alih-alih memaksakan diri untuk langsung bangkit dan pura-pura bahagia, itu adalah sebuah jebakan toxic positivity. Lagu ini justru mengajak kita untuk mengolah rasa tersebut. Rasakan pahitnya kecewa. Nikmati sepi yang hadir. Sadari bahwa semua rasa itu valid.

Seperti proses menyeduh teh, rasa pahit itu kalau dirawat dengan waktu yang pas, justru akan melahirkan kedewasaan berpikir. Menikmati lagu ini membuat kita sadar akan pentingnya mindfulness, hadir seutuhnya di momen sekarang. Kita tidak harus selalu mencemaskan apa yang akan terjadi besok, atau meratapi apa yang telah lewat kemarin. Cukup nikmati apa yang ada di depan mata saat ini, sekecil apa pun itu.

"Gak harus selalu produktif untuk dianggap berharga. Kamu berharga hanya karena kamu adalah kamu, yang sedang berjuang meniti jalanmu sendiri, dengan kecepatanmu sendiri."


Perenungan malam itu membawa ingatan saya kembali pada sebuah diskusi mengenai Ki Ageng Suryomentaram, seorang filsuf Jawa yang menelurkan ajaran Kawruh Jiwa. Beliau menjelaskan bahwa keinginan manusia itu memiliki sifat mulur (memuai) ketika tidak dituruti, dan mungkret (menyusut/bosan) setelah terpenuhi.

Ketika kita merasa "harus sukses sekarang juga" atau "harus produktif tiap detik", sebetulnya kita sedang dijajah oleh sifat mulurnya keinginan kita sendiri.

Di sinilah lagu "Teh Hijau" hadir sebagai momen untuk ngerem (mengerem) dinamika emosi yang melelahkan tersebut. Melambat bukan berarti kita kalah. Melambat adalah cara kita untuk sadar dan berkata pada diri sendiri: "Oh, ini si Kramadangsa (ego diri) lagi pengen kelihatan hebat saja di mata orang lain."

Dalam Kawruh Jiwa, olah rasa bukanlah tentang menolak emosi, melainkan menyaksikan emosi itu dengan jujur (mawas diri). Saat kita merasa cemas karena berjalan lambat, atau merasa bersalah karena tidak produktif, Suryomentaram mengajak kita untuk meneliti rasa itu: "Kenapa aku merasa begini? Siapa sebenarnya yang sedang merasa tertinggal?"

Mendengarkan "Teh Hijau" malam itu rasanya seperti sebuah ritual menyeduh rasa cemas. Kita diajak untuk menjadi pengamat atas rasa kita sendiri. Rasa tidak nyaman itu diaduk perlahan, rasa pahitnya dicicipi tanpa perlu ditolak, hingga akhirnya kita sampai pada level tatag (stabil dan kokoh) untuk menerima keadaan: “Ya sudah, saat ini aku memang butuh jeda. Gak papa kok.”

Keinginan kita yang menggebu-gebu di dunia modern ini sering kali seperti air yang mendidih bergolak. Olah rasa ala Suryomentaram, yang ditemani sayup alunan lagu Tulus, adalah proses mendiamkan air panas itu sampai tenang. Baru setelahnya, kita menyeduhnya bersama teh hijau, sehingga yang tersisa di cangkir kehidupan kita adalah rasa yang jernih, bukan lagi uap emosi yang membutakan.

Oia, beberapa waktu lalu saya berdiskusi dengan teman kelas yang mengatakan "Ca, sekarang kita udh jalan sendiri, aku belum merevisi apapun, kamu masih di tahapan penyusunan instrumen, gpp kita nikmati semua prosesnya".

Beliau menyampaikan itu dengan senyum sambil menerima sebungkus brownies.

Saya pun menerima apa yang disampaikannya. Saat itu, tapi lalu ternyata itu berlalu begitu saja,. masih terasa kosong.

hmm...

Mungkin yang saya butuhkan adalah berjeda...
Seperti kata Bapak Dosen S1 saya yang mengirimkan pesan "Ca, ga dosa loh kalau kamu meluangkan waktu 2 harimu tanpa melakukan apapun, atau melakukan sesuatu yang kamu senangin. kamu ingatkan saat saya sekolah dulu, ada kalanya postingan IG saya berisikan foto-foto, Saya menggunakan waktu itu untuk melakukan hobi saya foto. Kamu juga bisa kok.

Opini kali ini berisikan curhatan kruwelnya kepala mahasiswa S3 dengan tuntutan yang tidak terlihatnya. 

Selamat menikmati lagu Tulus.... Jika tidak dengan teh hijau, butterscoth juga nikmat hihihi...





Komentar