Meracik bumbu, Merilis stress
Ada hari-hari di mana isi kepala terlalu bising dengan target, ekspektasi, dan akumulasi stres yang tidak kasat mata. Seperti beberapa hari ini, rasanya penat, lelah dan entah perasaan apa lagi itu .
kapasitas kognitif mulai menemui titik jenuhnya, melarikan diri ke dalam deretan teks atau analisis digital sering kali justru memperkeruh suasana. Saya sudah Mencoba menuangkannya dalam deretan teks , menari di atas keybord tapi rasanya malah menghadirkan tanya dan takut yang entah kapan ada jawabannya ..
Akhirnya hari ini,
Di momen seperti itu, saya memilih berjalan ke dapur, menyalakan lampu, dan mengambil talenan.
Malam ini, terapi psikologis tidak datang dari ruang konseling atau buku-buku teoretis seperti biasa, melainkan dari sebuah ritual sederhana: meracik bumbu masakan.
Dimulai dari kulit bawang yang mengelupas satu demi satu di bawah jemari.
Ada kepuasan tersendiri yang sunyi saat melihat lapisan luar yang kering itu terbuang, menyisakan bagian inti yang bersih dan siap diolah.
Proses mengiris, mencacah, hingga aroma tajam yang menguar ke udara seakan perlahan-lahan menggeser fokus cemas di kepala ke dalam tindakan fisik yang nyata.
Bagian paling magis dari memasak adalah saat tangan ini mulai mengira-ngira takaran garam, gula, dan bumbu lainnya. Saya menolak menggunakan timbangan, karena rasa yang presisi akan ditemukan dari feeling, karena tidak ada rumus mutlak.
Semua murni mengandalkan intuisi visual dan rasa. Kita belajar mempercayai diri sendiri lagi, hanya diri kita .. saya bisa menakar seberapa banyak sejumput rasa asin yang dibutuhkan untuk mengimbangi getirnya hari.
Di depan wajan yang mental, stres tidak lagi terasa seperti monster yang besar. Ia perlahan larut bersama tumisan campuran bumbu yang harum.
Saya belajar dari proses memasak itu, memasak mengajarkan satu hal penting yang sering kita lupakan saat tertekan,
kita tidak selalu membutuhkan kepastian formula yang kaku untuk menciptakan sesuatu yang baik.
Terkadang, kita hanya perlu percaya pada proses, berani mengira-ngira rasa, dan menerima bahwa apa pun hasil akhirnya di atas piring nanti, kita telah berhasil merawat diri kita sendiri dengan cara yang paling jujur.
Dapur malam ini telah menyelesaikan tugasnya. Stres itu mungkin belum hilang sepenuhnya, tapi setidaknya, ia telah berhasil didekonstruksi menjadi sepiring makanan hangat yang siap dinikmati dalam tenang.
Setelah memasak gule ayam, rawon daging malam ini akhirnya ketambahan menu ayam pedes …
Aaah … setidaknya perut ini kenyang dan bisa tidur tanpa drama perut keroncongan…
Komentar
Posting Komentar