Sebelum menuliskan Pov saya,... mari Kita simak lagu ini dulu...
POV saya ... ketika dikatakan tidak peka...
kwkwkwkwk... Pembelaan diri menggunakan teori ya..
Sinyal-sinyal darimu tak jelasAtau mungkin aku kurang cerdasKadang rasanya sepertiTak ada batas antara kitaKadang seolah tak saling kenal
Hmm.... bukan -bukan gak cerdas loh, tapi bisa jadi itu adalah boundaries yang dibangun.. Kita tidak pernah tahu bukan..
Eh tunggu dulu, kalau kita bedah lebih dalam secara menggunakan teori Interaksionisme Simbolik, lagu ini sebenarnya bukan sekadar tentang cinta bertepuk sebelah tangan.
Ini adalah tentang bagaimana kita tersesat dalam simbol yang kita ciptakan sendiri... kita masuk dalam labirin sinyal yang kita buat sendiri. Seperti labirin kita keliling-keliling namun tak menemukan ujungnya.. ah sudah terbayangkan betapa lelahnya itu...
Kita ulas yuk,...
Ketika "Hai" Menjadi Simbol yang Terlalu Berat
Dalam interaksionisme simbolik, manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang mereka berikan. Masalahnya, makna itu subjektif. Ingat ya, makna itu subjektif..... udah itu kunci yang harus dipahami.
Dalam lagu ini, si tokoh utama menerima "sinyal-sinyal" kecil—mungkin sebuah pesan singkat atau tatapan mata. Baginya, itu adalah simbol harapan. Namun bagi si pemberi, itu mungkin hanya simbol kesopanan. Di sinilah letak konfliknya: kita sering kali memberikan bobot raksasa pada simbol yang sebenarnya ringan. Kita membangun narasi besar hanya dari satu kata "Halo".
Yaaa... sesederhana, eh kamu ditatap si A terus loh,.. B juga menatap kamu.... Apakah itu merupakan sinyal? yaaa belum tentu gaes, saya pribadi akan merespon " bukannya wajar orang kalau lagi bicara menatap lawan bicaranya,.. Mereka punya mata, fungsinya kan untuk melihat gaes". Thats simple kan.
Sebenarnya, kita dalam pikiran kita adalah aktor dari teori konspirasi itu sendiri,.. memperumit hal sederhana, menjadi andai-andai"
Lanjut ya gaes...
Perang Batin di Balik Layar HP
Pernahkah kamu mengetik pesan, menghapusnya, lalu mengetiknya lagi hanya untuk menyesuaikan "nada" agar tidak terlihat terlalu berharap?.... Ah pasti pernah kan, pernah kan menulis pesan, lalu dihapus... ah udah gak usah malu.. wajar kok..
George Herbert Mead menyebut proses ini sebagai "Minding"....
percakapan internal antara sisi impulsif kita (the I) dan sisi sosial kita yang penuh pertimbangan (the Me). Lagu "Sinyal" adalah representasi sempurna dari proses minding yang melelahkan. Kita terus-menerus bertanya: "Kalau dia melakukan X, apakah artinya Y?" Kita berhenti hidup di dunia nyata dan mulai hidup di dalam interpretasi kita sendiri.
Dia excited kalau bertemu, apakah artinya dia suka? aaaaah ga kayak gitu gaes... bisa jadi dia emang ramah, dia emang selalu seperti itu dengan semua orang.. yoook stop hidup dalam dunia angan, balik ke dunia nyata yuk.
Jebakan Proyeksi Diri
Idealnya, komunikasi yang lancar terjadi saat kita bisa melakukan role-taking atau melihat dunia dari perspektif orang lain secara akurat.
Namun, saat sedang jatuh cinta sendirian, role-taking kita sering kali rusak. Kita tidak benar-benar melihat si "dia"; kita melihat proyeksi diri kita pada diri mereka.
Kita berasumsi bahwa jika dia melakukan hal tersebut, dia pasti punya perasaan yang sama dengan kita. Padahal, dia punya "kamus simbol" yang berbeda total.
Ada sebuah kutipan terkenal "Jika manusia mendefinisikan situasi sebagai nyata, maka situasi itu nyata dalam konsekuensinya."
Meskipun secara objektif hubungan itu tidak bergerak ke mana-mana, selama kamu mendefinisikan sinyal itu sebagai "cinta", maka rasa sakit hatimu, cemasmu, dan penantianmu adalah nyata.
Kamu terjebak dalam realitas yang kamu konstruksi sendiri dari kepingan-kepingan interaksi yang sebenarnya rapuh.
Lagu "Sinyal" mengingatkan kita bahwa komunikasi bukan hanya soal apa yang diucapkan, tapi soal bagaimana kita mengolah makna.
Bernadya mengajak kita melihat bahwa kelelahan terbesar dalam sebuah hubungan sering kali bukan berasal dari jarak,... melainkan dari kelelahan kognitif akibat mencoba memecahkan kode yang mungkin memang tidak punya kunci jawaban.
Mungkin, sudah saatnya kita berhenti menjadi detektif simbol dan mulai menerima kenyataan:
"terkadang, sinyal yang membingungkan adalah cara semesta memberitahu bahwa frekuensinya memang tidak pernah sama"
Terkadang tidak ada jawaban adalah jawaban yang sebenarnya.

Komentar
Posting Komentar