Logika Rasa Dalam Lingkar Sosial
Tidak dapat kita pungkiri, era digital saat ini, memudahkan kita memiliki ratusan "teman" di media sosial. Ikut sebuah kumpul-kumpul lalu saling tukar akun sosmed, follow dan jadi teman. Semudah klik tapi tidak sepenuhnya klik..
Ups, maksudnya...
Gini- gini...
Kita seolah tahu siapa mereka hanya dari postingan yang seliweran di media sosial bukan.
Kita tahu apa yang mereka makan siang ini,
kita tahu ke mana mereka berlibur,
bahkan kita juga bisa tahu opini mereka tentang isu terhangat.
Namun, pernahkah kamu mendapati diri kamu sendiri berada di tengah keramaian terasa sepi ?
atau kamu sedang menatap layar ponsel yang penuh notifikasi,
lalu tiba-tiba tertegun dan bertanya: apa ini?
“Dari semua orang ini, siapa yang benar-benar teman saya?”
No.. no... jangan buru-buru membaca pertanyaan tersebut dengan nada sinis..
Saya menulis ini juga sebagai sebuah refleksi diri, saat saya galau gundah gulana, patah hati dan menangis merutuki ini.
Setelah saya berhasil menyelesaikan drama tangis itu, akhirnya saya coba menulis ini.
Konon, filsuf Yunani Aristoteles sudah merenungkan hal yang sama. Bisa bayangkan wajah yang merenung mencari teman dari notifikasi yang masuk?
Dalam karyanya Nicomachean Ethics, Aristoteles membagi pertemanan (philia) menjadi tiga kategori.
Pertemanan Berdasarkan Utilitas (Kemanfaatan): Ini adalah hubungan yang terjalin karena kedua belah pihak saling menguntungkan. Contohnya adalah relasi bisnis atau rekan kerja yang kompak karena proyek bersama. Begitu manfaatnya hilang, hubungannya pun memudar.
Pertemanan Berdasarkan Kesenangan: Hubungan ini eksis karena adanya hobi atau kesenangan yang sama. Teman nongkrong, teman main game, atau teman yang asyik diajak bergosip. Hubungan ini menyenangkan, tetapi rapuh jika selera atau fase hidup salah satunya berubah.
Pertemanan Sejati (Kebajikan): Inilah puncak pertemanan. Hubungan yang didasarkan pada rasa saling menghormati, kesamaan nilai moral, dan keinginan tulus untuk melihat satu sama lain berkembang tanpa pamrih. Aristoteles menyebut teman seperti ini sebagai “belahan jiwa yang tinggal di dua tubuh.”
Saat saya atau kamu mempertanyakan makna pertemanan,
mungkin sebenarnya kita sedang menyadari "mayoritas hubungan pertemanan kita terjebak di tingkat pertama dan kedua, dan kita merindukan tingkat yang ketiga.
Oia ada istilahnya Angka Dunbar (Dunbar's Number), sebuah teori dari antropolog Robin Dunbar yang menyatakan bahwa otak manusia hanya mampu mempertahankan hubungan sosial yang stabil dengan maksimal 150 orang. Nah di dalam angka itu, hanya ada sekitar 5 orang yang masuk dalam inner circle. 5 orang inilah yang benar-benar menjadi tumpuan emosional kita.
Normal loh, kita butuh inner circle.. Ah saya menulis ini jadi merasa tertampar gaes.
Mengapa kita butuh inner circle yang mendalam ini? Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan akan Safe Base (Ikatan Aman).
Pertemanan yang bermakna bukan sekadar tentang kuantitas interaksi, melainkan tentang perceived social support, keyakinan bahwa ketika dunia sedang runtuh, ada orang yang akan mengulurkan tangan tanpa menghakimi.
Ketika pertemanan kehilangan maknanya, yang terjadi adalah Disonansi Relasional. Kita menghabiskan energi psikologis untuk merawat ratusan koneksi superfisial , tetapi kehausan akan koneksi emosional yang intim.
Dalam artian "Kita hadir secara fisik, tetapi absen secara psikologis". Nyeseeek ga siy... nyesek banget kan..
Mempertanyakan makna pertemanan pada akhirnya akan membawa kita pada satu kesimpulan: Pertemanan bukanlah sebuah status yang statis, melainkan sebuah kata kerja.
waah kok bisa?
Kayaknya seperti ini siy.... CMIIW..
Filsuf eksistensialisme mungkin akan mengatakan bahwa pertemanan adalah ruang di mana kita berani menjadi diri sendiri secara otentik di hadapan orang lain.
Sementara psikologi humanistik mengingatkan bahwa pertemanan yang sehat adalah yang saling menumbuhkan (mutual growth).
Jika hari ini kamu mulai menyortir lingkaran pertemanan kamu, jangan merasa bersalah. Menjadi selektif bukan berarti kamu sombong atau menutup diri.
Itu adalah tanda bahwa kamu mulai menghargai kapasitas mental dan kedalaman emosional kamu.
Kualitas selalu mengalahkan kuantitas. Lebih baik memiliki satu orang "teman kebajikan" ala Aristoteles yang siap mendengarkan kerapuhan kita, daripada memiliki ribuan pengikut di dunia maya yang hanya ada saat kita tertawa.
Bagaimana dengan kamu? Ketika kamu melihat daftar kontak di ponsel kamu hari ini, makna pertemanan seperti apa yang sedang kamu rawat?

Komentar
Posting Komentar