Membaca yang Tersirat di Sela Sesapan Kopi
Sore Hari...
Diantara langit yang meremang karena awan yang mulai menutup sang Cahaya.
Duduk dipojokan, menghadap laptop, jari jemari asyik menari di tuts keyboard, seakan menuangkan gundah di kepala.
Saya seorang penikmat butterscoth, selain cappucino. Belakangan ini, saya sedang jatuh cinta pada segelas es kopi yang saya minum saat rasa lelah setelah aktivitas seharian.
ah, tentu bukan karena kafeinnya yang ampuh menahan kantuk, bukan.. karena kafein mengantarkan saya tertidur dengan pulas hehehe. Jatuh cinta karena rasa yang bekerja di lidah. Sensasi aneh namun memikat ditiap sesapannya.
Sesapan pertama, rasa manis karamel yang pekat menyambutnya dengan brutal, ah terlalu manis respon pertama. Namun, sedetik kemudian rasa gurih asin dari mentega yang tipis mulai datang dan turut menyambut dan di akhiri pahitnya espresso yang menutup tarian rasa di kerongkongan.
Aneh, ya pasti aneh.. Tiga rasa yang saling berbeda, cenderung bertolak belakang, namun ketika dipadukan dengan porsi yang pas, semua mendapatkan panggung, mereka tidak saling berebut. Mereka berdamai dan bersengkokol menciptakan harmoni yang utuh dan bisa dinikmati.
Isi kepala saya yang kruwel, lelah karena aktivitas seharian, pikiran yang sudah liar malah semakin berjalan kemana-mana. "Jangan-jangan kenyamanan terbesar dalam hidup ini memang tidak pernah lahir dari hal - hal yang seragam, namun dalam benturan kontradiksi inilah keindahan yang sebenarnya seringkali bersembunyi.
Sama seperti kita, manusia...
Kita makhluk yang cair, dan terkadang rumit. Mungkin sebenarnya semua rumit, tapi dikemas lebih soft saja.
Kita sering membangun benteng rasionalitas yang begitu tinggi, kokoh dengan aturan-aturan kaku di kepala, bahkan dengan sengaja memasang jarak objektif yang tebal seolah dunia ini hanya berisi hitam dan putih (menulis ini, sedikit banyak menampar diri saya sendiri, mengingatkan betapa kakunya seorang Caca). Sibuk dengan mendefinisikan hal-hal yang sederhana menjadi sebuah kelelahan."
Namanya saja pagar, namanya saja benteng, pasti ada celah yang entah secara tidak sengaja menjadi bocor. Ada hal-hal yang tidak bisa dibendung walaupun dengan dalih definisi ilmiah apa pun itu. Lelah ya lelah. Kadang bocornya pun melalui cara yang paling sunyi, tanpa ramai sorai.
Berupa ketukan jemari yang tiba-tiba berhenti di atas keyboard, tatapan kosong yang terlempar ke luar jendela, atau tumpukan buku yang mendadak kehilangan dayanya untuk dibaca."
Apa yang seharusnya dilakukan, apa rasa ini... mungkin bisa dirasakan dengan rasa manis dan gurih serta pahitnya espresso dalam butterscoth.. mungkin..
Terkadang terasa membingungkan, membuat lelah dan seringkali rem darurat muncul secara tiba-tiba.
Ah ya... berhenti sejenak, menikmati jeda. "kerumitan itu tidak benar-benar rumit, hanya permainan ilusi.
Perang batin yang terjadipun ada ruang yang tersisa yaitu kehangatan yang biasa dirasakan saat jeda.,
Mungkin, di jeda yang lain nanti, saya akan kembali duduk menikmati segelas butterscotch sendirian, membiarkan pikiran ini mengalir bebas tanpa sekat, tanpa perlu buru-buru mendefinisikan ke mana arah hidup ini berjalan." Mungkin juga kita akan menikmati segelas butterscotch bersama, tanpa sekat, tanpa perlu buru-buru mendefinisikannya.
Ah tandas sudah es kopi yang saya nikmati sore ini, menyisakan es batu yang mulai mencair, menandakan waktu jeda ini akan berakhir.
Dan tentu saja, kembali ke draft disertasi,.... dengan jeda di sela sesapan kopi..
Komentar
Posting Komentar