Menghuni Jeda diantara ....

Belakangan ini otak kita terlalu penuh dengan bahasa yang njelimet... 

Waiiii… liat aja postingan lini masa yang penuh dengan permainan kata. 

Lambat laun, saya menyadari ah kadang kata-kata itu sering kali menipu, atau kalau tidak menipu bisa jadi terlalu sempit untuk dimaknai. 

Contohnya... tuh lagu MBG .... Mas B... G .... 

jika langsung dimaknai, liriknya lucu, tapiii dibalik itu.. ah sudahlah bisa jadi kampanye atau apapun itu.. 

Sama seperti kata "aku paham, iya aku ngerti kok ... atau iyaa aku sayang kok,.. " lambat laun kalimat itu rasanya seperti memiliki batas. Ntah maknanya seperti menyusut, lalu lenyap.. Maybe, ah ntahlah.. 

Konon perasaan itu lebih dari kata,.. nah perasaan yang membuncah itu seakan dipaksa masuk dalam kotak pandora bahasa. Kadang kala bahasa itu tidak cukup menampung seluruh isi kepala dan hati... 

Ya gak siy? Makna dari kata itu bisa berbeda ... ah sesederhana "kamu paham? bermakna menanyakan ?atau berkata tegas".

Ya.... Komunikasi yang baik itu clear, dibicarakan dan diberi label. 

Tapiiiiii ketika kita berada dalam linimasa yang penuh huru hara, kalimat yang disampaikan, yang terbaca itu melelahkan. Kadang mengambil jeda, tidak mendeklarasikan sesuatu setiap hari adalah bentuk pengertian dan kasih sayang.

Ketika kita berhenti bicara, seakan berkata ya aku ada. 

Maksudnya gimana?

Gini gaes... Coba kita ingat agi momen saat lelah atau berantakan atau lagi overthinking. apa yang kita butuhkan? apakah jejalan kalimat penenang ? atau hanya butuh seseorang hadir diam dan duduk disebelahmu atau di depanmu untuk menemani jedamu, menghargai keheninganmu. 

Coba deh, ketika di momen itu, dan kamu bisa merasa nyaman dalam hening tanpa canggung. Bisa jadi loh sebenarnya kalian sedang saling memahami tanpa berkata. 

Asiiik puitis kali? tidak tidak tidak ini renungan aja ketika mengalami social media fatigue. 

Balik ya,... menyayangi seseorang terkadang tidak harus berkata aku sayang " iy iya tau dulu saya orang yang senang melabeli tapi ah seiring usia terus bertambah kita terkadang gak butuh validasi kata siy".

Teks pendek atau dry text itu, kalau dibaca leterlek yaaa sakit ... tapi terkadang kamu harus bisa sedikit legowo merasakan jejak lelah yang tersembunyi dibalik kata pendek itu. 

kadang kamu gak harus menuntut mendengar ceritanya saat dia belum siap, cukup dengan tetap menemani tanpa banyak tanya. 

Ingat gaes, manusia itu cair dan terus berubah. Rasa itu biarkan hadir lewat hal kecil seperti segelas es kopi butterscotch yang menyajikan keseimbangan manis dan gurih bersamaan, seperti kerumitanmu yang tidak benar-benar rumit karena selalu ada kelembutan. Sebuah helaan napas panjang yang langsung disambut dengan usapan kecil di pundak atau tatapan sekilas di tengah keramaian yang cuma kita yang tahu. 

Senyum simpul, kerutan kening yang cukup memberikan kejelasan tanpa kata. 

Mungkin ini cara sederhana mengatakan Jeda itu tidak menyakitkan. Mungkin... 


Sekian tuangan simpul kruwel di kepala... 

Terima kasih sudah hadir dan membaca tulisan ini.. 


Sudah ah, balik ke disertasi... 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

FoPo (Fear of People's Opinions) - Kena mental

Review The Alpha Girls Guide

Kehilangan (Lagi)