Sudut Favorit

 

Di Sudut yang Sama

Ada satu sudut yang selalu kupilih. Bagi banyak orang, sudut itu mungkin tak lebih dari deretan kursi di depan sebuah ruangan. Tempat untuk menunggu, beristirahat sejenak, atau sekadar lewat sebelum melanjutkan kesibukan.

Bagiku, sudut itu selalu lebih dari itu. Jauh sebelum ada cerita apa pun. 

Sebelum ada satu pagi yang kemudian diam-diam menetap dalam ingatan. 

Sudut itu sudah menjadi tempat favoritku. Bukan karena letaknya paling sempurna, melainkan karena di sana aku merasa dunia berjalan sedikit lebih pelan.

Beberapa waktu lalu, pagi itu berjalan sedikit berbeda.Bukan karena ada peristiwa besar. 

Tidak ada yang luar biasa. Hanya sebuah percakapan, diselingi tawa yang ringan, dan satu kalimat yang hingga hari ini masih bisa mengundang senyum setiap kali mengingatnya.

Lucunya, kenangan sering memilih hal-hal yang tampak sepele.

Bukan topik pembicaraannya yang ingat dengan utuh, melainkan suasana yang mengitarinya. 

Cara pagi itu terasa begitu ramah. Cara waktu seolah memberi ruang untuk berhenti sejenak. Kemarin aku kembali.

Aku duduk di sudut yang sama. Pagi masih serupa. 

Cahaya masih jatuh dari arah yang sama. 

Orang-orang tetap datang dan pergi dengan kesibukannya masing-masing.

Aku tahu, di ruangan lain, hari juga sedang berjalan seperti biasanya.

Dan entah mengapa, itu sudah cukup.

Sudut ini tidak kehilangan artinya. Justru sebaliknya. 

Ia tetap menjadi tempat favoritku, hanya saja kini ia menyimpan satu lapisan makna yang tidak perlu dijelaskan kepada siapa pun.

Ada momen yang tidak meminta untuk dimiliki. Ia hanya meminta untuk disyukuri karena pernah singgah.

Mungkin itulah sebabnya aku tetap senang kembali ke sudut ini.

Bukan untuk mencari apa yang telah lewat.

Melainkan untuk mengingat bahwa hidup pernah begitu baik, hingga menitipkan satu pagi yang sederhana di tempat yang sudah lama kusukai.





Sambil dengerin lagu 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Social Media Fatigue : lelah bukan cuek

Random pagi ini

Malapetaka