Persahabatan bagai kepompong.... Kok malah nyanyi siy...
ups,... artikel kali ini bukan membahas kepompong pada umumnya yang kita tahu ni... Tapi, kita akan mengenali apa siy kepompong informasi seperti judulnya.
Seperti biasanya, apapun topik yang membahas informasi pasti berkembang dari media sosial yang menjadi salah satu media terkini untuk mengakses informasi apapun yang kita butuhkan.
Hmm.... pembaca artikel ini bisa mulai melihat lagi, berapa akun media sosial yang tertaut di gawai? lebih dari 3 ya... hihi sama donk...
Jadi gini,...
Kita kan tahu ya yang namanya algoritma media sosial ya... saat di media sosial ni kita sering terjebak dalam ruang gema dan gelembung saring..
Misalnya gini, seminggu ini kita dihebohkan dengan informasi anak yang menuntut pengakuan dari sang Ibu... atau kita dihebohkan informasi seorang artis yang membuka badge "open to work" ... Timeline kita penuh dan berseliweran informasi yang mendukung atau menghujat ya...
Nah kadang secara gak sengaja kita klik suka ataupun memberikan komentar kan, ataupun bisa jadi emang iseng menuliskan komentar. Langsung deh kita dihujani informasi serupa... yang sesuai dengan aktivitas kita ...
Ruang gema dan filter bubble kan bisa membuat kita mencari informasi yang sesuai dengan pendapat kita kan..
Atau... Pernah merasa semua yang muncul di timeline seolah selalu sejalan dengan pendapatmu? Konten yang kamu lihat terasa “benar”, komentar mayoritas mendukung, dan jarang ada sudut pandang yang berbeda. Rasanya nyaman. Tapi hati-hati "bisa jadi kamu sedang berada dalam kepompong informasi".
Yups... ini berhubungan dengan kepompong informasi atau information cocoon.
Kepompong informasi merupakan kondisi individu yang hanya terpapar informasi yang sesuai dengan preferensi atau pendapatnya saja. Kondisi ini akan menciptakan lingkungan komunikasi yang homogen, searah dan memperkuat bias pribadi dan mendorong hilangnya keberagaman informasi.
Sekarang kita akan membahas mengenai kenapa siy kita bisa terjebak dalam kepompong informasi?
Nah.... saya akan coba membahas 4 aja ya,..
kepompong informasi bisa terjadi karena
-
Orang memilih informasi yang mendukung keyakinannya atau dikenal Selective exposure:
-
Orang akan memilih informasi yang sejalan dianggap benar, yang bertentangan diabaikan dikenal sebagai Confirmation bias.
-
Selain itu, platform menampilkan konten berdasarkan riwayat klik, like, atau pencarian atau Personalisasi algoritmik:
-
Kita juga seringnya melakukan interaksi lebih sering dengan orang yang memiliki pandangan serupa atau dikenal Homophily sosial.
Gak ada salahnya loh, kita mengakses media dengan perspektif berbeda (misalnya media arus utama, media alternatif, dan sumber ilmiah, yak gak papa banget kalau kita baca artikel jurnal hihihi) untuk memperluas sudut pandang.
Kedua, kita harus melatih kesadaran terhadap bias pribadi...
kita Mengenali adanya confirmation bias dan kecenderungan memilih informasi yang sesuai dengan keyakinan sendiri. kalau udah mengenali, yak kita coba cari informasi pembanding.
Ketiga... cek dan ricek ...
Verifikasi informasi sebelum mempercayai atau membagikan
Memanfaatkan situs pemeriksa fakta (misalnya CekFakta, TurnBackHoax) untuk mengurangi ketergantungan pada satu ekosistem informasi.
Keempat, gak ada salahnya kita berinteraksi dengan perspektif yang beragam
Kelima,Meningkatkan literasi digital dan literasi media
Kemampuan mengevaluasi kredibilitas sumber, memahami cara kerja algoritma, dan mengenali misinformasi terbukti membantu mengurangi efek kepompong informasi.
Keenam, Edukasi tentang keberagaman perspektif
Gak papa banget loh kalau kita berbeda pendapat, tapi disampaikan dengan cara yang benar ya ... supaya bisa terjadi keterbukaan kognitif (open-mindedness) dan toleransi terhadap perbedaan informasi.
Gitu deh.... Sekian dari saya,.. sampai jumpa di artikel lainnya....
Back to disertasi.... hihi

Komentar
Posting Komentar