Ketika Jantung bisa berbicara...
Pernahkah merasa dikhianati oleh tubuh sendiri?
Hari itu, niat saya sebenarnya sederhana,
ingin lebih sehat dengan memperbanyak langkah kaki yang sebenarnya juga tidak diniatin secara khusus. Dan dan kocaknya lagi, sore harinya saya harus berlari mengejar sesuatu yang pasti.. Apa yang pasti tiket keberangkatan kereta yang kalau molor dikit, bakal membuat saya bengong berjam-jam di stasiun .
Ah kekocakan itu bukannya membuat bahagia. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Bukannya endorfin yang datang, malah alarm jantung yang "menyala" dan memaksa saya untuk berhenti total. Yups, berhenti aktifitas yang normal.
Bisa bayangkan, setelah hectic, mancep diam ditempat?
Dua hari ini, Di saat sedang mengatur napas dan menenangkan detak jantung yang tak beraturan, saya tersadar bahwa apa yang saya alami bukan sekadar masalah fisik.
Ini adalah sebuah proses komunikasi intrapersonal yang sedang mengalami noise atau gangguan besar.
kita sering terpaku pada bagaimana manusia berinteraksi dengan orang lain. Namun, kita lupa pada komunikasi paling dasar: antara pikiran dan tubuh.
Hari itu, jantung saya berperan sebagai Source atau sumber pesan. Melalui rasa sesak dan debaran yang abnormal, rasa nyeri disore hari., ia sedang mengirimkan pesan encoding yang sangat jelas: "Cukup, saya butuh istirahat!"
Masalahnya, ego saya sering kali melakukan selective perception. Saya hanya ingin mendengar pesan tentang "ayo selesaikan, ndang selesai, dikit lagi kok," sementara pesan tentang "batas ambang " saya abaikan. Saya hanya merasakan tanpa mengindahkan.
Mengapa saya sampai "dititik diam"?
saya mungkin melakukan kesalahan dalam menilai penyebab. Saya menganggap bahwa rasa lelah adalah sesuatu yang bisa "dilawan" dengan kemauan keras , tanpa mempertimbangkan bahwa ada faktor situasional dan biologis yang nyata di sana.
Ada semacam Disonansi Kognitif yang terjadi di kepala saya:
Keyakinan A: "Selesaikan semua, maka selesai."
Kenyataan B: "ternyata terlalu banyak aktivitas, membuat alarm itu menyala."
Untuk mengurangi ketidaknyamanan ini, sering kali kita melakukan pembenaran yang berbahaya: "Ah, ini cuma capek biasa, nanti juga hilang." Padahal, itu adalah sinyal komunikasi yang gagal kita interpretasikan dengan jujur.
Saat dirumah, "kamu gak ingat, harus minum obat 8 jenis loh ketika kamu sakit seperti ini". Saya ingat siy rasanya minum jamu pahit, dan divonis dokter bahwa bla bla bla.... "makanya kamu harus tau kapasitas tubuhmu, olahraga, berjemur, jalan pelan-pelan. Berhenti ketika capek, bukan berhenti ketika sakit.
Apa yang saya pelajari...
Kejadian ini mengajarkan saya mendengarkan tubuh adalah bentuk Empati Intrapersonal.
Kita tidak bisa memperlakukan jantung kita seperti mesin yang hanya menerima perintah. Kita perlu membangun komunikasi dua arah yang setara dengan diri sendiri.
Setiap langkah kaki dan setiap detak jantung adalah feedback. Jika feedback-nya adalah rasa sakit, maka respons yang tepat bukanlah menambah kecepatan, melainkan melakukan re-coding terhadap gaya hidup kita.
Jangan Menunggu "Sinyal Putus"
Sakit jantung yang kumat karena aktivitas berlebih adalah cara tubuh melakukan interupsi.
Dalam dunia komunikasi, interupsi sering dianggap tidak sopan.
Tapi dalam kesehatan, interupsi adalah penyelamat jiwa. Karena,.. ketika alarm itu sudah menyala, ngomongpun harus pelan-pelan, nafas terdengar keras, seperti mengatakan satu-satu. Dada rasanya terbakar, seperti seakan meledak.
Saya selalu berusaha menghindar dari asap rokok, tapi ternyata luput dari diri saya sendiri.
Sekarang, saya belajar untuk lebih peka terhadap setiap "vibrasi" yang dikirimkan oleh jantung.
Karena pada akhirnya, komunikasi yang paling penting untuk dijaga bukanlah dengan audiens di luar sana, melainkan dengan degup yang ada di dalam dada kita sendiri.
Sehat selalu, teman-teman. Jangan lupa dengarkan apa yang jantungmu katakan hari ini....

Komentar
Posting Komentar