“Kita Tidak Ditipu, Kita Dibuat Percaya”
Lebaran, Hari Raya Idul fitri bukan hanya sebagai sebuah perayaan karena telah selesai berpuasa, namun lebaran selalu hadir paket lengkap dengan ruang emosi. Perjumpaan antara rindu, harapan dan kehangatan sosial. Momen ini menghadirkan ruang untuk saling membuka diri, memberi maaf, meminta maaf, berbagi rezeki dan menyambung kembali relasi yang mungkin sempat renggang karena isu politik atau mungkin pro kontra MBG. Siapa yang tahu, hati orang…
Lebaran identik denngan limpahan emosi positif, semua juga memahami itu, namun satu yang kadang kita lupa, atau mungkin kita tidak sadari “kita menjadi lebih mudah percaya”.
Inilah ironinya, momen dan ruang oenuh kepercayaan ini, menjadi momentum penipuan digital .
Mari kita renungkan, apa reaksi pertama kali yang muncul saat tahu ada rekan atau saudara yang menjadi korban penipuan digital? “Sudah bisa ditebak reakinya adalah “orang itu ceroboh, kurang waspada”. Dan banyak lagi judgement lain yang ditujukan untuk korban.
Menurut saya, pendekatan seperti ini hanya menyederhanakan persoalan tanpa ada solusi. Kita perlu sadari, saat ini penipuan digital bukan sekadar tindakan acak, melainkan hasil dari pemahaman mendalam tentang “bagaimana manusia berpikir, merasa, dan mengambil keputusan”. Kita harus memahami penipuan digital hari ini tidak hanya memanipulasi informasi, tetapi juga merancang emosi.
Artikel kali ini akan membahas konsep affect heuristic, yaitu kecenderungan manusia untuk membuat keputusan berdasarkan perasaan yang muncul secara cepat, alih-alih melalui analisis rasional.
Dalam konteks Lebaran, ketika emosi positif mendominasi seperti perasaan bahagia, percaya, dan ingin berbagi, mekanisme ini bekerja semakin kuat. Pesan yang datang dengan nuansa keakraban atau urgensi emosional lebih mudah diterima tanpa banyak verifikasi. Ketika sesuatu “terasa benar”, kita cenderung menerimanya sebagai benar. Karena kita cenderung menggunakan mental shortcut .
Di sinilah letak kecanggihan penipuan digital. Hoaks menajdi pintu masuk penipuan digital. Banyak modus yang beredar bukan sekadar menyampaikan informasi palsu, tetapi dirancang untuk memicu respons emosional tertentu.
Pesan singkat seperti “Saya teman lama, mohon bantuannya” atau “Paket Anda tertahan, segera konfirmasi” bukan hanya menyampaikan isi, tetapi membangkitkan rasa kedekatan, kepanikan, atau tanggung jawab. Emosi ini muncul lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memeriksa kebenaran.
Selain itu, penipuan juga sering memanfaatkan apa yang dalam psikologi disebut sebagai urgency effect yaitu dorongan untuk mengambil keputusan cepat ketika merasa waktu terbatas. Kata-kata seperti “segera”, “hari ini”, atau “terakhir” bukan sekadar tambahan, melainkan strategi untuk menutup ruang berpikir kritis. Dalam kondisi seperti ini, otak cenderung mengambil jalan pintas.
Fenomena affect heuristic dan urgency effect sejalan dengan pemikiran Daniel Kahneman tentang dua sistem berpikir manusia. Sistem pertama bekerja cepat, intuitif, dan emosional; sementara sistem kedua lebih lambat, analitis, dan rasional.
Dalam situasi normal, keduanya saling melengkapi. Namun, dalam kondisi emosional tinggi seperti Lebaran, ditambah dengan banjir informasi dan interaksi, membuat sistem pertama kita menjadi lebih dominan. Kita merespons cepat, merasa yakin, tetapi sering kali tanpa cukup pertimbangan.
Kombinasi keduanya membuat keyakinan terbentuk dengan cepat, sering kali tanpa verifikasi yang memadai. Namun proses tidak berhenti di sana. Ketika kemudian muncul tanda-tanda yang meragukan, individu tidak serta-merta mengubah keyakinannya. Justru di titik ini, mekanisme psikologis lain mulai bekerja dan membuat kita semakin sulit keluar dari jebakan penipuan. Dalam psikologi, ada yang namanya disonansi kognitif, konsep yang diperkenalkan oleh Leon Festinger. Disonansi kognitif terjadi ketika seseorang menghadapi ketegangan/ ketidaknyaman antara apa yang ia yakini dengan tanda-tanda yang mulai meragukan keyakinan tersebut. Namun, alih-alih segera mengubah keyakinan, manusia justru cenderung mempertahankannya demi mengurangi ketidaknyamanan psikologis.
Dalam konteks Lebaran, ketidaknyamanan atau ketegangan ini sering diselesaikan dengan cara yang tidak rasional, kita seringkali mengabaikan kejanggalan, membenarkan situasi, atau menunda kecurigaan. Akibatnya, kita terus mempertahankan kepercayaan itu, bahkan ketika sinyal bahaya mulai muncul.
Lebaran, dalam hal ini, menjadi semacam “perfect storm” bagi aktivasi bias kognitif. Intensitas komunikasi meningkat drastis, ratusan pesan ucapan, notifikasi transaksi, promo belanja, hingga pesan pribadi datang hampir bersamaan. Dalam situasi seperti ini, batas antara pesan autentik dan manipulatif menjadi kabur. Ketika semua terasa familiar, kewaspadaan pun perlahan menurun.
Yang lebih penting untuk disadari, kondisi ini bukan semata-mata kelemahan individu. Ini adalah konsekuensi dari bagaimana otak manusia dirancang. Kita tidak diciptakan untuk terus-menerus berada dalam mode curiga, apalagi dalam konteks sosial yang menekankan kehangatan dan kepercayaan seperti Lebaran. Justru karena kita manusia yang merasakan, mempercayai, dan ingin terhubung, kita menjadi target yang efektif bagi manipulasi semacam ini.
Karena itu, penting untuk menggeser cara pandang kita. Alih-alih menyalahkan korban sebagai tidak hati-hati, kita perlu memahami bahwa mereka sedang berhadapan dengan sistem yang secara aktif dirancang untuk mengeksploitasi kecenderungan psikologis manusia. Penipuan bukan lagi sekadar soal benar atau salah informasi, tetapi soal bagaimana emosi diarahkan untuk menghasilkan keputusan tertentu.
Akhirnya, Lebaran tetaplah ruang kebaikan yang perlu dirayakan. Namun, di tengah dunia yang semakin terhubung, kebaikan juga perlu disertai kewaspadaan. Karena hari ini, yang dirancang oleh pelaku penipuan bukan hanya pesan yang kita baca, tetapi juga perasaan yang kita rasakan saat membacanya.
Dan dalam dunia seperti itu, menjaga jarak sejenak dari emosi bisa menjadi bentuk perlindungan yang paling sederhana sekaligus paling penting.
Komentar
Posting Komentar