Langsung ke konten utama

Identitas Agama di KTP, untuk apa?

 Judulnya agak gimana ya? 

Tetiba aja siy pengen nulis ini, sebenarnya bukan tiba-tiba juga tapi jadi teringat pertanyaan beberapa orang "kamu Islam apa?" MU kah? atau NU kah? 

dengan tersenyum saya menjawab " Islam KTP" 

apakah tulisan ini akan membahas mengenai sinetron islam KTP? tentu saja tidak. 

Satu obrolan yang menggelitik ketika seorang kawan bertanya " Ca, si itu puasa kah? ..." saya balik bertanya emang kenapa? "soalnya dia gak terlihat shalat jumat, apa Atheis ya?'

Reaksi saya lah apa hubungannya puasa, gak shalat jumat dan atheis? 

Bijak dan Adil berpikir harusnya dilakukan sebelum memberikan label.. 

Yups identitas agama itu label kan,. dimaknai sebatas label kan.

Bukannya di Indonesia saja ada 6 agama. 

Secara tidak kita sadari, kita sudah "diajari bias" sejak dini.

mau contohnya, " Agama selain Islam disebutnya apa ? NonIs kan... Bukan menyebut agama Katolik, Protestan, Budha , Hindu, atau Penghayat .

Sejak dulu kita hidup dengan dikotomi agama,. 

Sebenarnya sederhana, si kecil melihat orangtuanya Shalat, lalu pada satu waktu si kecil melihat beberapa individu berdoa di rumah ibadah selain mesjid, apa kalimat pertama yang muncul ? jawaban si kecil "mereka ngapain ma?" setelah dijawab... Dia bertanya lagi "kok beda dengan mama ?" setelah di jawab .... dia pun bertanya lagi "apa itu agama?".... 

Ternyata anak kecilpun bisa memahami keberagaman, perbedaan namun dalam substansinya belum memahami secara penuh keberagaman, perbedaan dan pluralisme. 

Karena itu, penting semangat pluralisme dilakukan dalam parenting dalam keluarga. 

Supaya... 

Ketika melihat seseorang tidak shalat, tidak puasa bukan serta merta Atheis kan, bisa jadi dia memiliki keyakinan pada agama yang lain. Siapa yang tahu itu.

So, kembali ke judul "identitas Agama di KTP itu untuk apa? "

Bukannya keyakinan kita pada Tuhan itu hak mutlak milik kita, urusan kita dengan Sang Pencipta. 

Apakah kita sebenarnya memang benar- benar butuh identitas agama di KTP? atau pihak tertentu yang membutuhkan itu untuk melenggangkan dikotomi? 

Bahkan dalam konteks pluralisme, jangan-jangan pelabelan agama dalam identitas KTP justru kontradiksi dengan semangat pluralisme itu sendiri?

Mari kita renungkan. Sembari mendengar lagu "Untungnya". 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review The Alpha Girls Guide

 The Alpha Girls Guide Buku yang ditulis oleh om piring @hmanampiring . Diterbitkan oleh @gagasmedia (sudah 14 kali cetak)  Om piring menulis buku ini sebagai respon atas pertanyaan "cewek itu harus berpendidikan tinggi nggak sih? Ujung-ujungnya di dapur juga, kasih alasan kuat dong kenapa cewek harus berpendidikan tinggi? "  Pertanyaan pematik ini, pertanyaan yang komplek dan sering banget muncul, nah im piring menjawab pertanyaan ini dengan elegan berdasarkan pengamatan dan juga riset.  Buku ini terdiri dari 9 bagian yang di awali dengan bagian apa itu alpha female hingga your alpha female.  Saya tertarik beberapa kalimat dalam buku ini  1. Status alpha adalah status di dalam sebuah kelompok, artinya bergantung pada pengakuan anggota kelompok lain (tidak melabeli diri sendiri)  2. Miss independent belum tentu alpha female, tapi alpha female sudah pasti miss independent (ada bbrp prinsip penting dlm diri alpha female)  3. Alpha girls melihat pend...

Validasi rasa

 Rasanya masih sama ya..  ... Bingung dan Gak tahu harus apa? Respon pertama "Tuhan sedang bercanda lagi" Tapi, lebih dari itu... "Tuhan tidak sedang bercanda, karena ini seserius itu" Pernahkah membayangkan berada dalam satu tim bersama orang yang menginginkan posisimu, menginginkan jadi penggantimu bahkan menginginkan kamu mati?  Yups, saya berada dalam posisi itu,... Setelah 3 tahun berusaha bangkit, berusaha pulih dan masih proses pendampingan mental maupun spiritual hanya beberapa detik semua seakan memaksa menyeretku kembali pada masa gelap.. Saya tertawa kencang banget, kayak kok lucu siy.... Orang ini menghilang setelah membuat huru hara dan Tuhan dengan entengnya memberikan satu momen kami harus bersama hahahhahah... Kayak, begitu banyak kemungkinan yang ada, tapi kok kemungkinan ini yang tercipta... kenapa probabilitasnya besar banget hahahha.. Akhirnya pecah tangisku, setelah saya tidak tahu harus merespon bagaimana... masih jelas mengingat dengan detail ...

Stress? Belanja aja... hmm

  "Aku kalau stress biasanya belanja"...  "Aku Galau, ya buka aplikasi oranye atau aplikasi item, Checkout di keranjang" "Hidup itu antara kerja dan checkout" Bukan kalimat asing kan,.. Hmm.. saya pun pernah mengalami ini. Ingat banget, waktu itu galau malah keluar kost, ke toko buku dan ambil-ambil buku pas bayar kaget donk hampir setengah juta hanya untuk konsumtif belanja menghilangkan galau.. Ya siy, galau hilang saat ambil-ambil barang eh tapi galau datang lagi saat pembayaran. Itu pengalaman pribadi... sekarang kalau galau larinya siy ke stok bahan makanan di kulkas, masak-masak.  Lain lagi cerita salah seorang kawan "ca, aku putus lagi, dan kamu tahu aku ke toko kosmetik beli make up banyak banget, pokoknya aku harus tampil lebih cantik" Nah... fenomena konsumtif saat stres ini dinamakan  Doom Spending. Doom spending adalah kebiasaan menghabiskan uang secara impulsif sebagai respons terhadap kecemasan, stres, atau ketidakpastian akan mas...